Kamis, 27 Februari 2014

Kata - Kata Bijak & Motivasi Tokoh Dunia 1

Kata - Kata Bijak & Motivasi Tokoh Dunia 1

Leo dan Reza
Yesterday we dreamt to cultivate an aple tree,today we plan it, tomorrow we shall watter it,an then after tomorrow we are going to pick's it's fruit's.
Activis seniman forestry.

Sabtu, 01 Februari 2014

KEPERCAYAAN KEPADA TUHAN

MENJADI CALON IMAN DI JAMAN MODEREN  DAN MENJADI IMAN DI JAMAN YANG SEMAKKIN MODEREN
Para religious hari demi hari membawah kabar   ke pada  umatnnya  untuk memperoleh segampang  sebutan saja tetapi beratnya  kalau di hidupinya, kesensaraan nya  teriring pula . seorang calon  di persiapkan dengan baik ,agar di kemudian hari  di utus  sebagai pembawah kabar.  Pembawah kabar ini di kenal sebagai iman . ia di pangil secara khusus dan (langsung) oleh Tuhan . dia di utus pada jaman dan pada tempat tertentu  serta berbicara dengan orang -orang  zaman itu. Sesunguhnnya Aku meneruh  perkataan   perkataan di mulut mu (Yer 1:9) Maka ia di kenel sebagai insane Firman Allah dan Hati  Nurani Bangsa .Dengan demikin seoran g calon  iman di persipkan dalam sebuh konitas  (secara pribadi komunal),dengan suatu gaya  hidup dengan segala macam  posibilitas  sepanjan formasinya  sebagai mana munking  ia menjadi  insan  Firman Allaah  dan hati nurani bangsa  ke pada zaman tempat tertenu  dan juga jaman itu .  persiapkal di akui  menurut kehendaknya .Formasi dalam sebuah  komonitas adalah  bekal hidup seseorang calon .Oki ,  proses formasi juga  ikut  mengkotribusi  ke pada calon iman  dalam mempersiapkan  dirinya untuk menjadi iman .
    Sebagai calon  telah menyadari  bahwah kini menjadi  calon iman  di zaman ,moderen  dan akan menjadi  semakin modern . Cara hidup yang bagaimana? Bagaimana mestinny   akan menjedi mulut Tuhan  di zaman yang semkin modern nanti ?        Misalnnya :        Menyuarahkan menghadiri kembali Yesus  yang bankit  dua ribu tahun  yang lalu kepda umat  yang memiliki  mentaliyas modern. Bagaimana mereka bisa merasakan  dan menyadari hal yang trjadi dua ribu tahmun lalu  sementara proses hidup mereka adalah  kontribusi dari  berbagai ilmu.       Apakah Pertanyaan di atas  menyanekut formasi  dalam sebuh komunitas  atau pada seorag pribadi?Kedu duany !.Secara individual  munking menyankut pribadi  tetapi sebagai aeorang calon iman yang hidup  di dalam komuniitas  munkin saja menyankut proses  Formasinya .Apakah secara pribadi  telah mempersiapkan diri  untuk menjadi mulut  Tuhan  di zaman modern ?  Ataukah prose formasi  sudah bisa membentuk  seoran calon iman  di dunia yang semakin modern ini  yang meman realitasnya  semakin komples?

Selamat Hari Ibu ( 22/12 )

Selamat Hari Ibu [22 | 12]


Ibu.
Ibu melahirkan kita sambil menagis kesakitan…,,
Masihkah kita menyakitinya??
Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaannya??
Mencaci dan memakinya?
Melawannya?
Memukulnya?
Mengacuhkannya?
Meninggalkannya?
Ibu.
Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih bayi, masih kecil.
Memberikan ASInya waktu kita bayi,,
Mencuci celana dan baju kotor kita,,
Menahan derita,,
Menggendong kita sendirian,,
Sadarilah…….
Bahwa di dunia ini tidak ada yang mau mengorbankan jiwa dan raganya demi IBU!!!!
Tetapi….,,
Beliau,, ibu kita justru satu-satunya orang yang bersedia dan mau mengorbankan jiwa dan raganya untuk melahirkan kita….

Selamat Hari Ibu untuk semua ibu yang ada di muka bumi ini..
Terimakasih untuk semuanya yang tak terhingga…

Luv u so much,,mom…..

Falsafah Hidup Sebatang Pohon Pisang



Falsafah Hidup Sebatang Pohon Pisang

Saya tahu Anda mengenal buah pisang. Tapi tahukah Anda tentang keajaiban pohon pisang? Kalau Anda belum mengetahuinya, maka tulisan ini tepat sekali untuk Anda renungkan.
Pertama-tama saya akan meminta Anda untuk melakukan sebuah percobaan. Begini, kalau nanti Anda mendapatkan hari libur, pergilah ke daerah pedesaan. Temui seorang petani yang menanam pohon pisang. Kemudian, mintalah kepada petani itu, untuk menunjukkan; apa yang terjadi ketika pohon pisangnya yang belum berbuah dia tebang dengan parang yang tajam hingga tumbang. Jangan menolak kalau petani itu mempersilakan Anda sendiri untuk mengayunkan parang tajamnya. Lakukan saja. Dan lihatlah apa yang terjadi.
Percobaan ini belum selesai. Dua atau tiga minggu kemudian, cobalah luangkan waktu Anda untuk kembali lagi ke ladang pisang itu, dan tengoklah pohon pisang yang Anda tebas itu. Saya menjamin, Anda akan takjub menyaksikan pemandangan dihadapan Anda. Ternyata, pohon pisang yang Anda tebang beberapa minggu yang lalu itu, kini telah tumbuh lagi hingga tingginya lebih dari limabelas senti meter! Bagaimana mungkin? Bukankah Anda sudah memenggal batangnya hingga tuntas hanya dalam sekali tebas? Lantas, mengapa pohoh pisang itu kembali berdiri tegak persis di hadapan Anda hanya beberapa hari setelah Anda memenggal batangnya? Apakah Anda sedang berhadapan dengan hantu si pohon pisang?
Begitulah cara para leluhur kita mempelajari tentang keteguhan hati dan semangat pantang menyerah. Melalui fenomena-fenomena mengagumkan di tengah-tengah budaya agraris, mereka pada akhirnya menemukan keteguhan hati dengan berkaca kepada FALSAFAH HIDUP SEBATANG POHON PISANG. Dan begitulah pula mereka mengajarkannya kepada anak cucu, generasi penerusnya.
Mungkin Anda bertanya-tanya: Apakah pelajaran itu masih relevan dengan kehidupan modern di tengah perkotaan yang penuh dengan hiruk pikuk ini? Saya akan menjawab pertanyaan Anda dengan terlebih dahulu mengajukan beberapa pertanyaan: Apa yang terjadi ketika Anda menghadapi cobaan? Anda menyerah? Apa yang terjadi ketika kesulitan menghadang Anda? Anda berhenti? Apa yang terjadi ketika kegagalan demi kegagalan Anda alami? Anda frustrasi? Apa yang terjadi ketika Anda terkena PHK, misalnya? Apakah Anda berputus asa?
Pohon pisang tidak memilih untuk bersikap bagai pecundang seperti itu. Seperti yang sudah Anda temukan sendiri melalui percobaan sederhana tadi, si pohon pisang yang belum berbuah itu, tidak akan pernah berhenti hanya karena Anda menebas batangnya hingga bergelimpangan di atas tanah! Kalau Anda masih tidak yakin tentang itu, ambil kembali parang Anda!
Lalu carilah pohon pisang yang belum berbuah, dan hunjamkan parang Anda itu kepadanya! Meskipun parang Anda menyebabkan pohon pisang yang belum berbuah itu tumbang, Anda tidak pernah berhasil mematikannya. Dia akan tumbuh kembali dengan batang pohonnya yang pulih seperti sediakala.
Sekarang, pergilah ke ladang petani itu, sekali lagi. Mintalah kepadanya untuk diajari, mengapa pohon pisang yang belum berbuah tidak bisa dimatikan dengan cara menebangnya menggunakan sebilah parang yang tajam, meski parang itu menumbangkannya hingga berkali-kali.
Saya tidak heran jika petani yang Anda datangi itu mengajarkan kepada Anda tidak dengan kata-kata. Melainkan dengan sebilah parang juga! Kalau Anda dimintanya untuk memilih pohon pisang yang sedang berbuah, maka pilihlah pohon pisang yang sudah berbuah dan siap untuk dipanen. Dan ketika Pak Tani meminta Anda untuk menebangnya, maka Anda tidak perlu ragu untuk mengayunkan parang Anda kepada batang pohon pisang yang sudah berbuah itu. Ayo, jangan ragu-ragu. Tumbangkan pohon pisang itu dengan parang tajam di tangan Anda. Karena Anda hanya akan berhasil membuka tabir falsafahnya dengan menebang pohon pisang itu. Jadi, lakukan saja.
Kalau Anda sudah melakukannya, petani itu akan meminta Anda untuk datang kembali ke kebun pisangnya tujuh hari lagi. Jangan menolak permintaannya. Datanglah tujuh hari lagi ke ladang perkebunan pisang petani itu. Sungguh, datanglah. Lalu, lihatlah pohon pisang yang Anda tebang itu, sekali lagi. Pohon pisang itu mati, bukan? Sisa pohon yang Anda tebang itu kini sudah membusuk dengan warna kecoklatan dan melembek menyerupai tanah. Dan akar pangkal pokok hidupnya? Juga mati. Mereka menyerahkan diri kepada bumi.
Berhasilkah Anda menemukan rahasia pohon pisang itu? Mengapa pohon pisang yang belum berbuah akan tumbuh lagi, dan tumbuh lagi. Dan terus tumbuh lagi tidak peduli berapa kalipun Anda menebangnya hingga dia tumbang? Sebaliknya, mengapa pohon pisang yang sudah berbuah akan mati setelah Anda menebang batangnya sekali saja? Mengapa? Tahukah Anda rahasianya? Ini adalah rahasia tentang sebuah KETEGUHAN HATI.
Sekarang Anda tahu, mengapa petani itu tidak menjelaskan dengan kata-kata. Sebab, bahasa seringkali membatasi makna dari sebuah peristiwa. Keterbatasan bahasa itu menyebabkan kita tidak dapat mencerna secara utuh, pesan apa yang ingin disampaikan oleh alam kepada kita. Juga tentang pesan yang dibawa sang pohon pisang melalui misteri kematiannya yang sangat indah. Tetapi, saya sangat meyakini kalau Anda pada akhirnya akan sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa; pohon pisang tidak akan pernah mau dimatikan HINGGA DIA BERBUAH!
Kalau engkau menebang pisang sebelum berbuah, maka dia tidak akan pernah menyerah. Dia akan tumbuh lagi. Karena ’Sampai berbuah’ adalah falsafah hidupnya.
Jadi, ”Jangan Pernah Berhenti, Sebelum Engkau Berbuah”
Hingga dia berbuah. Itulah falsafah hidup sebatang pohon pisang. Mungkin Anda bertanya-tanya; keteguhan hati untuk apa? Keteguhan hati untuk memastikan bahwa hidupnya sampai kepada ‘menghasilkan buah’. Yaitu buah berupa manfaat bagi lingkungannya. Sebab, ternyata, setelah pohon pisang itu berbuah, dia akan dengan sukacita menyambut kematiannya. Sebagai pertanda bahwa tujuan hidupnya telah dia tunaikan hingga lunas tuntas. Itulah alasan, mengapa sebatang pohon pisang yang Anda tebang tadi pada akhirnya bersedia untuk menerima kematiannya. Dan dia kembali berbaur dengan warna coklat dan gemburnya tanah. Untuk menyatu kembali dengan bumi yang mengandungnya.
Jika kita refleksikan makna kata ‘berbuah’ sebagai simbol dari ‘tercapainya tujuan hidup’ yang tiada lain adalah apa yang kita sebut sebagai ‘hasil karya’, maka pohon pisang mewakili sebuah keteguhan hati untuk tetap berfokus kepada hasil dari sebuah karya. Tentang karya apa yang ingin kita hasilkan semasa hidup. Tentang sesuatu yang bisa dipersembahkan sebagai wujud kontribusi kita. Dan karenanya, kita memutuskan untuk tetap hidup hingga berhasil mewujudkan sebuah ‘karya’. Sebagai kontribusi kepada diri kita sendiri, juga kepada orang lain di sekitar kita. Dan juga kepada dunia. Yang menjadi bukti bahwa kita, pernah ada.
Itulah pesan yang ingin disampaikan oleh sebatang pohon pisang kepada para leluhur kita. Kemudian kepada Pak Tani. Lalu kepada saya. Dan kemudiaan saat ini saya membaginya kepada Anda, yang tentu saja akan Anda sampaikan kepada orang-orang lain, hingga anak-anak dan cucu kita kelak.
Saya bertanya, “Apa yang menjadi tujuan hidup pohon pisang?”
Pak Tani berkata, “Tujuan hidup pohon pisang adalah untuk berbuah.”
Jadi, kalau engkau menebangnya sebelum dia berbuah, maka pohon pisang tidak akan pernah menyerah. Dia akan tumbuh lagi. Sampai dia berbuah, itulah falsafah kehidupan sebatang pohon pisang. Dia tidak akan mati, sebelum berbuah…
“Mengapa pohon pisang ingin berbuah?”, Saya bertanya.
“Jawabannya akan engkau temukan jika engkau merenungkannya,” dan Pak Tani pun beranjak. Meninggalkan saya sendirian ditengah kebun pohon pisang.
Sementara itu, saya terus bertanya-tanya: kalau pohon pisang memiliki semangat hidup yang begitu tinggi tanpa kenal menyerah, mengapa saya tidak mencontohnya saja? Bagaimana dengan Anda? Apakah pesan yang dibawakan oleh pohon-pohon pisang masih relevan dengan kehidupan bisnis modern perkotaan yang saat ini sedang Anda jalani?
“Tentu!” Bukankah itu jawaban Anda? Jikalau begitu, ajak saya untuk berjalan bersama Anda. Dan mari kita nasihatkan satu sama lain dan katakana, ”Jangan Pernah Berhenti, Sebelum Anda Berbuah”.