Falsafah Hidup Sebatang Pohon Pisang
Saya tahu Anda mengenal buah pisang. Tapi tahukah Anda
tentang keajaiban pohon pisang? Kalau Anda belum mengetahuinya, maka tulisan
ini tepat sekali untuk Anda renungkan.
Pertama-tama saya akan meminta Anda untuk melakukan
sebuah percobaan. Begini, kalau nanti Anda mendapatkan hari libur, pergilah ke
daerah pedesaan. Temui seorang petani yang menanam pohon pisang. Kemudian,
mintalah kepada petani itu, untuk menunjukkan; apa yang terjadi ketika pohon
pisangnya yang belum berbuah dia tebang dengan parang yang tajam hingga
tumbang. Jangan menolak kalau petani itu mempersilakan Anda sendiri untuk
mengayunkan parang tajamnya. Lakukan saja. Dan lihatlah apa yang terjadi.
Percobaan ini belum selesai. Dua atau tiga minggu kemudian,
cobalah luangkan waktu Anda untuk kembali lagi ke ladang pisang itu, dan
tengoklah pohon pisang yang Anda tebas itu. Saya menjamin, Anda akan takjub
menyaksikan pemandangan dihadapan Anda. Ternyata, pohon pisang yang Anda tebang
beberapa minggu yang lalu itu, kini telah tumbuh lagi hingga tingginya lebih
dari limabelas senti meter! Bagaimana mungkin? Bukankah Anda sudah memenggal
batangnya hingga tuntas hanya dalam sekali tebas? Lantas, mengapa pohoh pisang
itu kembali berdiri tegak persis di hadapan Anda hanya beberapa hari setelah
Anda memenggal batangnya? Apakah Anda sedang berhadapan dengan hantu si pohon
pisang?
Begitulah cara para leluhur kita mempelajari tentang keteguhan
hati dan semangat pantang menyerah. Melalui fenomena-fenomena
mengagumkan di tengah-tengah budaya agraris, mereka pada akhirnya menemukan
keteguhan hati dengan berkaca kepada FALSAFAH HIDUP SEBATANG POHON PISANG.
Dan begitulah pula mereka mengajarkannya kepada anak cucu, generasi penerusnya.
Mungkin Anda bertanya-tanya: Apakah pelajaran itu
masih relevan dengan kehidupan modern di tengah perkotaan yang penuh dengan
hiruk pikuk ini? Saya akan menjawab pertanyaan Anda dengan terlebih dahulu
mengajukan beberapa pertanyaan: Apa yang terjadi ketika Anda menghadapi
cobaan? Anda menyerah? Apa yang terjadi ketika kesulitan menghadang Anda? Anda
berhenti? Apa yang terjadi ketika kegagalan demi kegagalan Anda alami? Anda
frustrasi? Apa yang terjadi ketika Anda terkena PHK, misalnya? Apakah Anda
berputus asa?
Pohon pisang tidak memilih untuk bersikap bagai
pecundang seperti itu. Seperti yang sudah Anda temukan sendiri melalui
percobaan sederhana tadi, si pohon pisang yang belum berbuah itu, tidak akan
pernah berhenti hanya karena Anda menebas batangnya hingga bergelimpangan di
atas tanah! Kalau Anda masih tidak yakin tentang itu, ambil kembali parang
Anda!
Lalu carilah pohon pisang yang belum berbuah, dan
hunjamkan parang Anda itu kepadanya! Meskipun parang Anda menyebabkan pohon
pisang yang belum berbuah itu tumbang, Anda tidak pernah berhasil mematikannya.
Dia akan tumbuh kembali dengan batang pohonnya yang pulih seperti sediakala.
Sekarang, pergilah ke ladang petani itu, sekali lagi.
Mintalah kepadanya untuk diajari, mengapa pohon pisang yang belum berbuah tidak
bisa dimatikan dengan cara menebangnya menggunakan sebilah parang yang tajam,
meski parang itu menumbangkannya hingga berkali-kali.
Saya tidak heran jika petani yang Anda datangi itu
mengajarkan kepada Anda tidak dengan kata-kata. Melainkan dengan sebilah parang
juga! Kalau Anda dimintanya untuk memilih pohon pisang yang sedang berbuah,
maka pilihlah pohon pisang yang sudah berbuah dan siap untuk dipanen. Dan
ketika Pak Tani meminta Anda untuk menebangnya, maka Anda tidak perlu ragu
untuk mengayunkan parang Anda kepada batang pohon pisang yang sudah berbuah
itu. Ayo, jangan ragu-ragu. Tumbangkan pohon pisang itu dengan parang tajam di
tangan Anda. Karena Anda hanya akan berhasil membuka tabir falsafahnya dengan
menebang pohon pisang itu. Jadi, lakukan saja.
Kalau Anda sudah melakukannya, petani itu akan meminta
Anda untuk datang kembali ke kebun pisangnya tujuh hari lagi. Jangan menolak
permintaannya. Datanglah tujuh hari lagi ke ladang perkebunan pisang petani
itu. Sungguh, datanglah. Lalu, lihatlah pohon pisang yang Anda tebang itu,
sekali lagi. Pohon pisang itu mati, bukan? Sisa pohon yang Anda tebang itu kini
sudah membusuk dengan warna kecoklatan dan melembek menyerupai tanah. Dan akar
pangkal pokok hidupnya? Juga mati. Mereka menyerahkan diri kepada bumi.
Berhasilkah Anda menemukan rahasia pohon pisang itu?
Mengapa pohon pisang yang belum berbuah akan tumbuh lagi, dan tumbuh lagi. Dan
terus tumbuh lagi tidak peduli berapa kalipun Anda menebangnya hingga dia
tumbang? Sebaliknya, mengapa pohon pisang yang sudah berbuah akan mati setelah
Anda menebang batangnya sekali saja? Mengapa? Tahukah Anda rahasianya? Ini
adalah rahasia tentang sebuah KETEGUHAN HATI.
Sekarang Anda tahu, mengapa petani itu tidak
menjelaskan dengan kata-kata. Sebab, bahasa seringkali membatasi makna dari
sebuah peristiwa. Keterbatasan bahasa itu menyebabkan kita tidak dapat mencerna
secara utuh, pesan apa yang ingin disampaikan oleh alam kepada kita. Juga
tentang pesan yang dibawa sang pohon pisang melalui misteri kematiannya yang
sangat indah. Tetapi, saya sangat meyakini kalau Anda pada akhirnya akan sampai
kepada sebuah kesimpulan bahwa; pohon pisang tidak akan pernah mau dimatikan
HINGGA DIA BERBUAH!
Kalau engkau menebang pisang sebelum berbuah, maka dia
tidak akan pernah menyerah. Dia akan tumbuh lagi. Karena ’Sampai berbuah’
adalah falsafah hidupnya.
Jadi, ”Jangan Pernah Berhenti, Sebelum Engkau Berbuah”
Hingga dia berbuah. Itulah falsafah hidup sebatang pohon pisang. Mungkin
Anda bertanya-tanya; keteguhan hati untuk apa? Keteguhan hati untuk memastikan
bahwa hidupnya sampai kepada ‘menghasilkan buah’. Yaitu buah berupa manfaat
bagi lingkungannya. Sebab, ternyata, setelah pohon pisang itu berbuah, dia
akan dengan sukacita menyambut kematiannya. Sebagai pertanda bahwa tujuan
hidupnya telah dia tunaikan hingga lunas tuntas. Itulah alasan, mengapa
sebatang pohon pisang yang Anda tebang tadi pada akhirnya bersedia untuk
menerima kematiannya. Dan dia kembali berbaur dengan warna coklat dan gemburnya
tanah. Untuk menyatu kembali dengan bumi yang mengandungnya.
Jika kita refleksikan makna kata ‘berbuah’
sebagai simbol dari ‘tercapainya tujuan hidup’ yang tiada lain adalah
apa yang kita sebut sebagai ‘hasil karya’, maka pohon pisang mewakili
sebuah keteguhan hati untuk tetap berfokus kepada hasil dari sebuah karya.
Tentang karya apa yang ingin kita hasilkan semasa hidup. Tentang sesuatu yang
bisa dipersembahkan sebagai wujud kontribusi kita. Dan karenanya, kita
memutuskan untuk tetap hidup hingga berhasil mewujudkan sebuah ‘karya’. Sebagai
kontribusi kepada diri kita sendiri, juga kepada orang lain di sekitar kita.
Dan juga kepada dunia. Yang menjadi bukti bahwa kita, pernah ada.
Itulah pesan yang ingin disampaikan oleh sebatang
pohon pisang kepada para leluhur kita. Kemudian kepada Pak Tani. Lalu kepada
saya. Dan kemudiaan saat ini saya membaginya kepada Anda, yang tentu saja akan
Anda sampaikan kepada orang-orang lain, hingga anak-anak dan cucu kita kelak.
Saya bertanya, “Apa yang menjadi tujuan hidup pohon
pisang?”
Pak Tani berkata, “Tujuan hidup pohon pisang adalah
untuk berbuah.”
Jadi, kalau engkau menebangnya sebelum dia berbuah,
maka pohon pisang tidak akan pernah menyerah. Dia akan tumbuh lagi. Sampai dia
berbuah, itulah falsafah kehidupan sebatang pohon pisang. Dia tidak akan
mati, sebelum berbuah…
“Mengapa pohon pisang ingin berbuah?”, Saya bertanya.
“Jawabannya akan engkau temukan jika engkau
merenungkannya,” dan Pak
Tani pun beranjak. Meninggalkan saya sendirian ditengah kebun pohon pisang.
Sementara itu, saya terus bertanya-tanya: kalau pohon
pisang memiliki semangat hidup yang begitu tinggi tanpa kenal menyerah, mengapa
saya tidak mencontohnya saja? Bagaimana dengan Anda? Apakah pesan yang
dibawakan oleh pohon-pohon pisang masih relevan dengan kehidupan bisnis modern
perkotaan yang saat ini sedang Anda jalani?
“Tentu!” Bukankah itu jawaban Anda? Jikalau begitu, ajak saya
untuk berjalan bersama Anda. Dan mari kita nasihatkan satu sama lain dan
katakana, ”Jangan Pernah Berhenti, Sebelum Anda Berbuah”.
Falsafah hidup sebatang pisang sebagi motivasi bagi manusia yang memperjuangkan kehidupannya dalam dunia ini.....
BalasHapus